Aspek-Aspek User Experience yang Baik
Kalau kamu pernah merasa betah banget pakai suatu aplikasi karena tampilannya enak dilihat dan mudah digunakan, itu tandanya aplikasi tersebut punya User Experience (UX) yang bagus.
Tapi, pernah juga kan kamu pakai aplikasi yang bikin bingung, tombolnya gak jelas, atau loading-nya lama banget? Nah, itu contoh UX yang buruk.
Sebenarnya, apa sih yang membuat UX bisa dikatakan “baik”?
Menurut para ahli seperti Nielsen Norman Group dan ISO 9241-210, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menciptakan pengalaman pengguna yang menyenangkan. Yuk kita bahas satu per satu.
1. Usability (Kegunaan)
Aspek paling dasar dari UX adalah usability, atau gampangnya: seberapa mudah aplikasi itu digunakan.
Kalau pengguna bisa langsung paham cara kerja aplikasi tanpa harus baca panduan panjang, berarti usability-nya bagus.
Contohnya, waktu kamu buka Shopee atau Tokopedia, kamu langsung tahu di mana tempat cari produk, lihat harga, dan bayar. Simpel dan cepat, kan?
Nah, itulah yang disebut UX yang baik.
2. Desirability (Daya Tarik)
Aspek ini berhubungan dengan tampilan dan perasaan.
Desain yang menarik, warna yang enak dilihat, dan animasi yang lembut bisa bikin pengguna betah.
Tapi ingat, tampilan cantik saja nggak cukup. Kalau aplikasinya ribet, pengguna tetap bakal kesal. Jadi, desain yang menarik harus tetap mudah digunakan.
3. Findability (Kemudahan Ditemukan)
Pernah gak kamu pakai aplikasi dan bingung cari fitur tertentu? Nah, itu karena aspek findability-nya kurang.
Aplikasi yang baik harus punya navigasi yang jelas dan fitur yang mudah ditemukan.
Contohnya, fitur “Search” di Instagram atau Tokopedia yang membantu pengguna menemukan konten atau produk dengan cepat.
Kalau fitur penting susah dicari, pengguna bisa langsung tutup aplikasinya.
4. Accessibility (Aksesibilitas)
Aspek ini sering dilupakan, padahal penting banget.
UX yang baik harus bisa digunakan oleh semua orang, termasuk mereka yang punya keterbatasan seperti gangguan penglihatan atau pendengaran.
Misalnya, adanya mode gelap (dark mode), ukuran teks yang bisa diperbesar, atau fitur pembaca layar.
Desain seperti ini bikin aplikasi terasa lebih ramah dan inklusif.
5. Credibility (Kepercayaan)
Pengguna cuma mau pakai aplikasi yang mereka percaya.
Kalau aplikasi terlihat mencurigakan atau data pribadinya tidak aman, pasti mereka langsung kabur.
Contohnya, aplikasi DANA dan OVO menampilkan logo “Verified” dan memakai sistem OTP supaya pengguna merasa aman saat bertransaksi.
Rasa aman ini termasuk bagian penting dari pengalaman pengguna yang baik.
6. Efficiency (Efisiensi)
UX yang bagus juga harus efisien, artinya pengguna bisa mencapai tujuannya dengan cepat tanpa ribet.
Gak perlu klik terlalu banyak atau isi data yang sama berulang-ulang.
Contoh paling gampang: di aplikasi Gojek, cukup satu kali tekan tombol “Pesan Sekarang” dan pesanan langsung diproses. Cepat, jelas, dan gak ribet!
7. Satisfaction (Kepuasan)
Yang terakhir, tentu saja kepuasan pengguna.
Kalau pengguna merasa senang, puas, dan ingin terus memakai aplikasi, berarti UX-nya berhasil.
Kepuasan ini muncul dari semua aspek di atas kemudahan, kecepatan, tampilan menarik, dan rasa aman.
Tanpa kepuasan, semua usaha desain akan terasa sia-sia.
Kesimpulan
Jadi, bisa kita simpulkan bahwa aspek-aspek penting dalam UX yang baik meliputi:
Usability, Desirability, Findability, Accessibility, Credibility, Efficiency, dan Satisfaction.
Kalau semua aspek ini digabung dengan baik, hasilnya adalah pengalaman pengguna yang memuaskan dan bikin orang betah menggunakan produk tersebut.
UX yang bagus bukan cuma soal tampilan, tapi soal bagaimana pengguna merasa saat menggunakannya.
.jpg)

Komentar
Posting Komentar